Program Pertama REDD+ untuk Dunia - Melindungi Hutan dari Kebakaran Sekaligus Memberikan Manfaat Bag


(Photo credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


Tsavo dikenal sebagai wilayah yang kering. Daerah ini bukan tempat yang baik bagi manusia atau hewan ternak untuk hidup atau mencari makan.


Suatu hari, seorang pengusaha Amerika yang sedang berwisata safari di Kenya, jatuh cinta dengan kehidupan satwa di sana. Namun di saat bersamaan, ia juga merasakan masalah kekeringan yang dialami masyarakat sekitar. Ia lalu mendirikan Wildlife Works di tahun 2011 dan Kasigau Corridor Project menjadi proyek Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation (REDD+) pertama di dunia yang diverifikasi oleh dua badan standardisasi - Verified Carbon Standard and the Climate Community dan Biodiversity Alliance. Keduanya mengevaluasi seluruh aspek proyek, termasuk perhitungan pengurangan emisi karbon, serta pembagian hasil keuntungan yang adil dan merata kepada masyarakat. Demi melancarkan proyek REDD+ Kasigau Corridor ini, Wildlife Works sendiri mengembangkan metodologi untuk menghitung kadar karbon di hutan kering dan membandingkannya dengan hutan hujan tropis.


“Awalnya memang tidak mudah,” tutur Cara Braund, Conservation Manager untuk Wildlife Works. “Tetapi kami punya landasan yang kuat untuk menyukseskan proyek REDD+ ini. Kami dapat memberi bukti jelas untuk setiap kepemilikan tanah (menjamin kepemilikan tanah), kami punya tuntutan yang jelas (terkait ancaman deforestasi seperti penebangan dan pembakaran liar, serta degradasi hutan seperti penambangan arang), kami juga memiliki hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar. Kami bekerja sama dengan mereka untuk menyediakan mata pencaharian alternatif.”


Mata pencaharian alternatif untuk mengubah perilaku masyarakat


Wildlife Works telah menyusun desain proyek dan kerangka kerja dalam mengimplementasikan kegiatan-kegiatan yang bisa menjadi mata pencaharian. Mereka melibatkan masyarakat dan para pemilik tanah - dengan total sekitar 100.000 orang - agar mencapai kesepakatan bersama, tanpa paksaan apapun. Sesuai kesepakatan sebelumnya, tidak ada seorang pun yang boleh terkena dampak negatif dari proyek yang berjalan, jika ada, maka disediakan tempat pengaduan.


Para pemilik tanah diwajibkan untuk merawat pohon-pohon dan tidak memperbolehkan adanya penebangan ilegal, atau produksi arang yang melanggar aturan terjadi di sekitar wilayah proyek.


(Photo credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


Program ini juga menyediakan berbagai pelatihan untuk mata pencaharian alternatif, seperti produksi sabun, pembuatan pakaian, pengrajin rotan, bercocok tanam secara cerdas (seperti mempraktikkan okulasi, mengembang biakkan benih, irigasi, pertanian vertikal, dan pembasmian hama ramah lingkungan dengan memanfaatkan lidah buaya, cabai, tanaman Mimba, hingga daun tembakau), mengatur konservasi agar menarik minat turis, dan lain sebagainya. Wildlife Works memiliki 350 anggota, di mana 100 di antaranya sudah terlatih menjaga hutan dan menjaga satwa liar. Sebagian yang lain adalah mantan pemburu dan pengepul arang yang telah memutuskan untuk mencari pekerjaan yang lebih baik.


Sumber Karbon Terbaik

(Photo credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


Program REDD+ Kasigau Corridor saat ini menghasilkan 1.800.000 unit karbon yang sudah terverifikasi (juga disebut sebagai karbon kredit) setiap tahunnya. Angka tersebut lebih besar dari dua program REDD+ lainnya di Kenya. Mereka menjual karbon kredit di pasar sukarela, di mana baik individu maupun perusahaan seperti BNP Paribas dan International Finance Corporation dapat turut membeli.


Adapun hasil penjualan karbon kredit dibagi secara adil ke semua pihak yang berkepentingan. Sepertiga pendapatan diberikan kepada para pemilik tanah dengan Wildlife Works yang mengatur biaya operasional, lalu sisa keuntungan dibagi 50/50 antara masyarakat dan investor. Masyarakat, melalui kepanitiaan yang telah dibentuk, dapat memutuskan apa yang ingin dibelanjakan menggunakan dana yang didapat dari penjualan karbon kredit. Baik itu untuk pelatihan, maupun proyek kesehatan dan pendidikan (gedung sekolah atau beasiswa). Setiap kepanitiaan beranggotakan sedikitnya dua perempuan dan dua pria untuk memastikan keberagaman.


(Photo credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


“Proyek REDD+ yang berhasil seperti Kasigau Corridor ini sangat penting untuk menunjukkan bahwa perlindungan hutan dan satwa liar dapat menghasilkan manfaat yang besar bagi masyarakat. Jika kita ingin melindungi keanekaragaman flora dan fauna dari perubahan iklim, maka langkah berikutnya adalah meningkatkan volume pohon dan lebih banyak bekerja sama dengan alam,” tutur Tim Christophersen, coordinator program untuk air tawar, tanah, dan iklim dari UNEP.


Program yang telah diakui oleh masyarakat Kenya ini, diproyeksikan akan berjalan selama 30 tahun. Itu berarti, masih ada 20 tahun lagi untuk mencapai tujuan utamanya, yakni pengembangan mata pencaharian berkelanjutan bagi para pemilik tanah dan masyarakat sehingga mereka memiliki cukup sumber daya untuk hidup tanpa harus merusak hutan.


Author:


Griet Ingrid Dierckxsens

Africa regional Communications and Knowledge Management specialist

UN-REDD Programme

UN Environment

Nairobi, Kenya

ingrid.dierckxsens@un.org


42 views

This resource is made possible through support from Denmark, Japan, Luxembourg, Norway, Spain, Switzerland and the European Union.

 

© 2019 UN-REDD Programme.  All images used courtesy of license holder or through Creative Commons license.

  • Facebook - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • YouTube - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
  • Flickr - Grey Circle