• Johan Kieft

Pohon adalah Sumber Kehidupan


Selama perjalanan di Afrika, kami mengunjungi banyak lokasi pembibitan pohon. Skala besar maupun kecil, yang sedang berkembang maupun yang terhambat.

Pembibitan terbaik yang kami lihat justru bukan milik pemerintah atau LSM, melainkan milik Edward Lutawo Phiri bersama ayahnya. Sejak kecil, Edward terpukau memperhatikan ayahnya menanam bibit. Ketika ayahnya meninggal, Edward mengambil alih dan memperluas area pembibitannya. Kini, 19 tahun kemudian, Edward mengelola tiga hektar lahan dibantu 12 pegawai.

Edward beruntung memiliki ayah dengan sebidang tanah berkualitas baik dengan persediaan air permanen. Lokasinya pun berada di situs yang landai, sehingga drainase berlangsung dengan baik didukung asupan materi yang cukup. Edward lalu meratakan permukaan seraya memadatkan volume tanah, kemudian menandainya dengan tiang yang kokoh. Ia juga menggunakan pasir dan batu-batu kecil untuk memberi ruang penetrasi akar sehingga membantu proses drainase. Nutrisi dan kualitas kelembaban tanah pun tetap terjaga dengan sifat tanah hutan yang liat.

Edward juga menanam berbagai jenis buah-buahan dan mengembangkannya secara vegetatif dengan cara okulasi. Teknik ini merupakan penyatuan dua bagian dari dua tanaman terpisah, umumnya bagian batang, dengan cara menempelkan sepotong kulit pohon bermata tunas dari batang atas ke irisan kulit pohon lain di bagian batang bawah agar tumbuh menjadi tanaman yang baru. Sebagai catatan, kedua tanaman harus berasal dari spesies atau famili yang sama. Di Zambia, buah-buahan yang biasa dikembangkan dengan cara okulasi adalah mangga, alpukat, dan jeruk.


“Setelah melakukan okulasi, saya mengembangkannya secara alami. Lalu ketika musim hujan, saya melakukan tumpang sari - menanam dua jenis tanaman secara serentak - dengan kacang maupun kacang tanah selama tidak mengganggu pertumbuhan,” tutur Edward. “Saya mempraktikkan wanatani dengan menanam kayu asli seperti mahoni merah yang membutuhkan waktu tujuh tahun untuk dipanen.”

“Kita perlu melakukan diversifikasi,” ia melanjutkan. “Kita harus menanam pohon karena pohon membantu kita menahan banjir maupun kekeringan, serta memberikan obat-obatan alami dan juga membawa hujan. Pohon adalah sumber kehidupan.”


Edward menerapkan pengelolaan hutan sekitar yang sangat ketat, mencegah terjadinya kebakaran dan memantau penebangan hutan liar. Maka ketika pembibitan pohon lain sering terlanda masalah kekurangan air, ia dapat menjaga kadar air sekaligus memiliki sumur dangkal sebagai penyimpan cadangan air.

Untuk menanggulangi hama dan penyakit, Edward menggunakan daun pohon mimba yang telah ditumbuk dan disaring ke dalam air untuk disemprotkan ke bibit. Ia juga menggunakan daun tersebut untuk membuat pupuk dengan cara mencampurkannya dengan pupuk kandang sebagai penambah bahan organik dan nutrisi untuk tanah.

David Ngwenyama, project manager daerah dari Zambia Integrated Forest Landscape Project (ZILP) menyatakan harapannya untuk bekerja sama dengan Edward karena ia adalah sosok yang dapat diandalkan, memiliki kualitas bibit dengan kualitas terbaik, dan siap membantu kapanpun dibutuhkan.

Kualitas Edward pun telah diakui oleh presiden kelima Zambia, Michael Sata, dengan memberikan penghargaan medali emas kategori layanan terbuka untuk Zambia. Author:


Griet Ingrid Dierckxsens

Africa regional Communications and Knowledge Management specialist

UN-REDD Programme

UN Environment

Nairobi, Kenya

ingrid.dierckxsens@un.org

110 views

This resource is made possible through support from Denmark, Japan, Luxembourg, Norway, Spain, Switzerland and the European Union.

 

© 2019 UN-REDD Programme.  All images used courtesy of license holder or through Creative Commons license.

  • Facebook - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • YouTube - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
  • Flickr - Grey Circle