Mengelola Hutan dengan Partisipasi Masyarakat: Sebuah Studi Kasus dari Kenya


Dua orang perempuan suku Masai di kebun tomat (Credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


“Semua akan berjalan lebih baik jika kami ikut terlibat,” ujar Kibarisho Leintoi, Ibu delapan anak berumur 36 tahun. “Meskipun saya tidak bisa menulis atau membaca, saya tahu persis apa yang dibutuhkan keluarga saya untuk hidup. Kami membutuhkan perawatan kesehatan dan air bersih.” Ibu ini membutuhkan air untuk irigasi kebun tomatnya, serta memberi minum lima kambing dan lima sapinya. Tanpa air, penghasilannya pun menurun. Dulu, ia mampu menyekolahkan dua anaknya. Sisanya ditugaskan membantu pekerjaan rumah dan menjaga ternak. Namun setelah panennya gagal karena kekeringan, salah satu anaknya harus berhenti sekolah karena ia tidak lagi mampu membiayainya.


Gambar dari Kibarisho berselimut merah (Credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


Beberapa tahun sebelumnya, sedikit mata air bisa menghidupi seluruh masyarakat Maji Mato, yang berlokasi di kawasan Narok, Kenya. Namun, seiring dengan meningkatnya populasi dan kebutuhan peternakan, sumber air yang ada tidak lagi cukup. Mereka pun sadar bahwa bendungan atau waduk dapat membantu mengumpulkan air supaya mereka dapat menggunakannya untuk irigasi dan peternakan.


Masyarakat Maji Mato kemudian membentuk kepanitiaan berjumlah tujuh orang, salah satunya adalah Kibarisho Leintoi. Kepanitiaan ini lalu bertemu dengan Indigenous Livelihood Enhancement Partners (ILEPA), sebuah organisasi masyarakat desa yang bertugas mengidentifikasi dan mewujudkan kebutuhan mereka. Setelah mengetahui bahwa masyarakat Maji Moto membutuhkan bendungan, ILEPA lalu melatih mereka dalam penulisan proposal serta membantu menemukan sponsor. Dana yang turun kemudian diawasi oleh masyarakat yang juga telah menerima pelatihan dari ILEPA tentang cara memantau dan menangani penggunaan dana.


Gambar Waduk (Credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


ILEPA menunjukkan bahwa masyarakat desa memiliki kapasitas untuk menjalankan berbagai proyek secara bertanggung jawab, mereka hanya membutuhkan pelatihan yang tepat dan peningkatan kapasitas. Setelah bekerja sama dengan masyarakat desa selama bertahun-tahun, ILEPA dipercaya menangani program PBB untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat, memberikan panduan dan perlengkapan yang tepat sebagai hak masyarakat desa dan bagian dari Free Prior and Informed Consent atau disingkat FPIC, yang dalam Bahasa Indonesia dikenal sebagai PADIATAPA (Persetujuan Atas Dasar Informasi di Awal Tanpa Paksaan). . Ini akan membantu para pemberi dana dan pemerintah untuk melibatkan masyarakat dalam merancang sebuah proyek yang berpengaruh dengan kehidupan mereka. “Santing untuk mengetahui siapa yang harus diajak berdialog dalam sebuah masyarakat. Sebagai contoh, bagi masyarakat Masai, Anda harus bertindak sebagai pemimpin budaya sekaligus pemimpin administratif,” ucap James Twala, Project Officer untuk program perubahan iklim di ILEPA. “Hukum menyatakan bahwa dalam proyek-proyek yang bisa mempengaruhi mata pencaharian masyarakat lokal, mereka harus dilibatkan.”


Di tahun 2010, Kenya menerapkan hukum yang sangat berpengaruh terhadap bagaimana sumber daya alam, termasuk hutan, dikelola. Pemerintah menetapkan hasil sumber daya alam dibagi kepada pemerintah tingkat nasional dan daerah. Hukum ini tentu membutuhkan partisipasi publik dalam pengelolaan, perlindungan, dan konservasi hutan. Oleh karena itu, berbagai undang-undang seperti Forest Management and Conservation Act (2016) dan Climate Change Act (2016) menegaskan keterlibatan masyarakat lokal dan minoritas terhadap proses penanganan perubahan iklim, perlindungan dan pemantauan lingkungan, serta pembagian keuntungan. “Kami tidak membuat hukum baru, melainkan memastikan Free Prior Informed Consent (FPIC) terpenuhi,” lanjut Twala. “Ketika sebuah proyek digerakkan oleh masyarakat, akan tumbuh rasa memiliki sehingga proyek tersebut memiliki peluang lebih besar untuk berkelanjutan. Secara kolektif, masyarakat akan bertanggung jawab untuk merawat dan mengelola proyek tersebut bahkan setelah donatur sudah pergi.”


Gambar Rapat ILEPA dengan para tetua desa (Credit: James Ekwam, UN-REDD Programme)


Panduan yang dikembangkan oleh ILEPA ini meliputi pertemuan yang bersifat konsultatif di mana masyarakat dapat mengutarakan kebutuhan mereka, serta diberi pengetahuan tentang rincian proyek termasuk biayanya. Masyarakat lalu memutuskan apakah mereka setuju atau tidak, dan apabila setuju, mereka diberi pilihan untuk memberi persetujuan secara lisan atau menandatangani perjanjian secara tertulis, mengatur poin apa saja yang disepakati, waktu, dan hasilnya. Masyarakat juga diberi wewenang untuk bersama-sama memantau berjalannya proyek.


Program UN-REDD menjadi pionir dari kebijakan-kebijakan inovatif yang mengutamakan perlindungan hutan serta ekosistem sosialnya. UN-REDD berkomitmen pada pendekatan berbasis Hak Asasi Manusia, inklusivitas, dan keterlibatan masyarakat.


Sejak tahun 2017, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Kenya, bersama UNDP dan FCPF, menerapkan pedoman tersebut dalam setiap pengembangan proyek. Selama proses ini, semua pihak terlibat memberikan rekomendasi terkait berbagai kebijakan di hutan Kenya, memastikan nilai-nilai pedoman FPIC terpenuhi sebagai bagian dari kesiapan REDD+. “Masyarakat diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam setiap proses pengambilan keputusan dalam proyek-proyek kehutanan yang menjadi mata pencaharian mereka,” tutur Judy Ndichu, Technical Coordinator untuk Forest Carbon Partnership Facility (FCPF) di Kenya.


Author:


Griet Ingrid Dierckxsens

Africa regional Communications and Knowledge Management specialist

UN-REDD Programme

UN Environment

Nairobi, Kenya

ingrid.dierckxsens@un.org



15 views

This resource is made possible through support from Denmark, Japan, Luxembourg, Norway, Spain, Switzerland and the European Union.

 

© 2019 UN-REDD Programme.  All images used courtesy of license holder or through Creative Commons license.

  • Facebook - Grey Circle
  • Twitter - Grey Circle
  • YouTube - Grey Circle
  • LinkedIn - Grey Circle
  • Flickr - Grey Circle